Obrak Abrik Audio-Visual di Panggung MEW: Day 1 Stellar Fest 2018


MEW di Stellar Stage, Stellar Fest 2018. (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri)


Pengalaman menonton yang membingungkan — mengagumkan sekaligus mengecewakan.

Setelah sempat khawatir tidak jadi berangkat karena satu dan lain hal, akhirnya aku berhasil membelah peta Bekasi — Senayan. Terimakasih, Bumble Bee. Long story short, Rabu (9/5) pukul 16:30 WIB, kakiku mendarat di pelataran Istora Senayan. Dilengkapi dengan insiden tiketku hilang satu, akhirnya aku mengalah untuk membeli lagi tiket OTS. Untung aku anaknya santai alias teledor amat sih menghilangkan tiket. Berusaha mengabaikan rasa panik dan sedih, bergegaslah kami — tidak perlu diperjelas aku dan siapa — ke pintu masuk Stellar Fest 2018.

Helatan dengan slogan yang digadang-gadang sebagai ‘The Biggest Indie Movement in Indonesia’ ini memang sempat membuat aku heran. Kok bisa ya, dengan line up segambreng serenceng gitu, harga tiket cuma Rp 35 ribu untuk early bird (Rp 50 ribu untuk On The Spot ticket)? Apa tidak rugi bandar? Ternyata jawabannya aku bisa asumsikan sendiri setelah menikmati sajiannya.

Memilih hari pertama Stellar Fest 2018 sebagai satu-satunya opsi tontonan bukannya tanpa alasan. Selain atas izin semesta alam jadwalnya bertepatan dengan hari liburku, deretan artis yang mengisi di panggung utama bernama Stellar Stage juga membuat diri ini komat-kamit. Stellar Stage diisi oleh Circarama, Costaroy, Vira Talisa, Sore, Polka Wars, dan MEW. Ya, it’s MEW, for God sake. Mustahil jika dilewatkan. Sebenarnya panggung satu lagi, Movement Stage, tidak kalah menarik. Sajiannya adalah Sumber Kencono, Louis and the Hardline, Reality Club, Thirteen, OM Pengantar Minum Racun (PMR), Revenge The Fate dan Seringai. Tapi aku lebih memilih untuk menyimpan energi dan tidak banyak mondar-mandir selain beli cemilan dan CLBK (Cuma Lihat Beli Kaga) ke booth-booth clothing line.

Mengembalikan kodrat tulisan ini untuk membahas penampilan MEW, mari kita gaspolkan saja. Band dengan genre indie-alternative rock asal Denmark ini naik ke Stellar Stage pukul 21:30 WIB, setelah Polka Wars turun. Tidak langsung sih, sempat jeda sekian menit (antara 15–20 menit) dan sukses membuat para hadirin tidak sabar. Teriakan ‘Gue pegel neeeeh!’ dan ‘Woy gerah woy’ menjadi dengung yang menemani kami menunggu MEW benar-benar siap. Teriakan riuh mulai terdengar saat Jonas Bjerre, Johan Wohlert dan Silas Utke Graae Jørgensen; bersama additional players yaitu Nick Watts dan Mads Wegner naik ke atas panggung. Gosh, Jonas terlihat seperti… figur dewa di mitologi Yunani gitu. Meleleh aku. Ternyata saat suaranya mulai keluar menyapa penonton, aku malah merasa dia cocok menjadi peri. /skip/

Oh ya, sebelum masuk ke pembahasan, aku akan menjelaskan posisiku berdiri saat menonton. Jarak panggung ke barikade sekitar 1 meter, dari barikade panggung sekitar 7 baris ke belakang. Tepat di tengah, satu garis dengan Front of House (FOH) dan mic vokalis. Dengan posisi seperti itu, suara yang diterima telinga dan sudut mata memandang akan kurang lebih seimbang, setidaknya menurutku. Semoga bisa terbayang.

MEW membuka penampilan dengan “In A Better Place” yang sukses membuat penonton berjoget tipis-tipis saat intro dimainkan. Aku cukup mafhum jika lagu-lagu awal pasti dimulai dengan kualitas sound yang kurang begitu ‘nendang’. Meminjam istilah seseorang, lagu-lagu awal memang sering menjadi ‘tumbal’, karena soundman juga sembari mengatur settingan soundyang tepat. Melanjutkan dengan “Special”, “The Zookeper’s Boy” dan salah satu andalan pribadiku, “Satellites”, disini aku merasa kualitas suara yang dihasilkan mulai membaik.

Suasana mengalir seiring lini-lini jagoan dimainkan. Secara berurutan, “Candy Pieces All Smeared Out” dari Visuals (2017), “Palace Players”, antusiasme meningkat saat jagoan lama yang sedikit up-beat, “Snow Brigade” dari Frengers (2003) dilantunkan; dilanjutkan dengan “Start”, “Twist Quest”, lagu sejuta umat — paling banyak versi remix-nya — , “Water Slides”, medleyApocalypso” dan “Saviours Of Jazz Ballet”, serta “Carry Me to Safety”. Lupa setelah lagu apa, Jonas berujar ‘Terima kasih’, lalu melantunkan lagu selanjutnya. Sepertinya Jonas benar-benar ingin berterima kasih, karena total tiga kali ia mengucap terima kasih — dua kali dalam bahasa Inggris — kepada penonton.

Sempat ada gimmick bahwa MEW akan meninggalkan panggung, aku tidak percaya, sampai tanpa sadar nyeletuk ‘Ah percuma punya album banyak’ dan jadi bahan tertawaan penonton di sekitarku. Benar saja, MEW memasuki encore dan dibuka dengan “Nothingness/Seasons”. Kemudian Jonas mengambil gitar dan memainkan secara berturut-turut “Am I Wry? No” dan “156”. Harus ikhlas menyudahi potekan surga ini, MEW menutup dengan “Comforting Sounds”.


Penutupan penampilan MEW di Stellar Stage, Stellar Fest 2018. (Foto: Puti Cinintya Arie Safitri)

Seperti yang telah dibahas, aku pribadi kurang begitu puas dengan suara yang dihasilkan. Walaupun seiring penampilan kualitas suaranya semakin membaik, namun nyatanya sampai helatan selesai pun aku masih kurang greget. Entah apa yang menyebabkan itu, bahkan di lini kesukaanku sepanjang zaman; “Am I Wry? No”, yang notabene dimainkan saat encore, di bagian terbaiknya (versi Spotify ada di 3:00–3:10), vokal Jonas terdengar meleot. Tidak mungkin karena Jonas masuk angin dan tidak sengaja sendawa, kan? Cukup bete, sih. Disini aku mulai sadar alasan mengapa harga tiketnya bisa begitu murah.

Aspek lain yang perlu dikritisi adalah visual, dalam hal ini videotron dan lighting. Tidak menampik bahwa visual (background) menjadi unit yang memengaruhi kepuasan menonton konser. Sejak awal aku menyaksikan band-band sebelum MEW, aku memang sudah mengutuk si videotron ini. Selain dimensinya terlalu kecil, ditambah dengan kualitas gambar tidak High Definition (HD), diperparah dengan ilustrasi visual yang, aku mohon maaf, katro. Untung saat MEW tampil visual yang disajikan adalah milik MEW sendiri. Dari segi lighting, lampu sorot yang mengarah ke panggung tidak menyala sepanjang MEW tampil. Aku yang mencoba memotret penampilan mereka sedikit kewalahan. Ekspresinya jadi tenggelam dalam kegelapan. Bahkan salah satu temanku menyadari bahwa ada lampu yang ‘goyang’ alias mau lepas di pojok. ‘Nuff said.

Poin-poin ini dapat menjadi perhatian oleh pihak Stellar Fest 2018 jika memang berniat untuk menjadikan event ini sebagai agenda tahunan. Konsep venue sudah keren, lengkap dengan instalasi seni, ada tempat main skateboard segala, kebersihan OK, tapi justru aspek pendukung penampilan band sepertinya kurang diperhatikan. Sebagai awam yang sudah jadi concertgoers sejak 2009, semoga aku memang benar-benar paham dan tidak salah menilai. Aku tetap berharap Stellar Fest kembali ada di 2019, dengan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.

*tulisan ini adalah penilaian subyektif hasil observasi pribadi, perbedaan pengalaman saat menonton dapat memengaruhi.

Tulisan ini pernah ditayangkan di user story kumparan.com pada https://kumparan.com/puti-cinintya-arie-safitri1510835233831/obrak-abrik-audio-visual-di-panggung-mew-day-1-stellar-fest-2018

Tulisan ini pernah ditayangkan di Medium pada https://medium.com/@kuntilawak/obrak-abrik-audio-visual-di-panggung-mew-day-1-stellar-fest-2018-fa81981a40be

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai