Kebahagiaan Budayawan dan Se(n)iman Direnggut Sejak Lama


Mudah dikriminalisasi (atau di-sensi-in), kah?


Ibu Sukmawati Soekarnoputri. (Foto: ANTARAFOTO/Meli Pratiwi)

*catatan: Tulisan ini dibuat murni menanggapi isu yang cukup mengganggu untuk saya (sebagai penghobi seni dan sesosok makhluk yang tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga -yang juga penghobi seni-). Tidak bermaksud ofensif dan melawan siapapun. Tidak juga sebagai pembenaran. Segala pandangan berbeda dan/atau ketidaksukaan Anda terhadap sebagian atau seluruh isi tulisan ini menjadi tanggung jawab Anda sendiri. Keresahan ditanggung pemenang.

*catatan kedua: bahan bakar yang paling mudah terbakar di dunia adalahnetizen (dalam KBBI: warganet). Sudah mudah terbakar, api bakarannya menyambar kemana-mana, pula.

*catatan ketiga: [TL;DR WARNING].

PUISI IBU INDONESIA


Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut
Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi dan kreatif
Selamat datang di duniaku
Bumi ibu Indonesia
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung ibu Indonesia sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azanmu
Gemulai gerak tarimu adalah ibadah
Semurni irama puja kepada ilahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damai mengalun
Canting menggores ayat-ayat alam surgawi
Pandanglah ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini
Cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya


Sukmawati Soekarnoputri

Membuka tulisan (yang panjang dan kontekstual) ini dengan puisi dari seorang wanita yang terkenal sebagai, oh, maaf, mungkin ada yang kurang pengetahuan siapakah sesungguhnya beliau. Boleh saya bantu kita semua untuk ber-tabayyun? Berdasarkan penelusuran saya di Mbah Google, gapapa ya? Mbah Google tadi memberi tahu via Dek Wikipedia. Semoga Dek Wikipedia tidak berbohong.

“Diah Mutiara Sukmawati Sukarnoputri (lahir di Jakarta, 26 Oktober 1951; umur 66 tahun) adalah putri dari presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Sukmawati juga merupakan adik dari Megawati Soekarnoputri, mantan presiden Indonesia. Beliau merupakan seorang budayawati, politisi dan pengusaha. Sukmawati mengawali pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SR) dan tamat tahun 1964. Ia melanjutkan pendidikannya Akademi Tari di di LPKJ, Jakarta, tahun 1970–1974 hingga kemudian menjadi mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip), Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, sejak tahun 2003. Pada tahun 2011, ia menuliskan kesaksian sejarah terkait dengan kehidupannya selama 15 tahun di Istana Merdeka dalam sebuah buku yang berjudul Creeping Coup D’Tat Mayjen Suharto. Buku ini mengungkapkan kisah hidup Sukmawati sejak dilahirkan di Istana Merdeka dan menceritakan kesaksian sejarahnya terkait kudeta yang dialami Soekarno pada tahun 1965–1967.”

Wikipedia

Barusan saya berusaha juga untuk mencari apakah ada karya lain selain buku yang disebutkan Wikipedia dan –tentu saja– puisi Ibu Indonesia yang termaktub dalam buku kumpulan puisi berjudul serupa, Ibu Indonesia. Ternyata susah. Karena semua link mengarah pada pemberitaan panas sepanas paha ayam spicy di franchise makanan cepat saji berlogo merah-kuning. Jadi kita mungkin cukupkan dulu tabayyun-nya sejenak.

Dengan kurangnya informasi mengenai karya dari Ibu Sukmawati, mungkin bisa kita asumsikan kalau Ibu Sukmawati berkarya namun jarang dipublikasikan. Atau mungkin, dipublikasikan namun metadata dan rekam jejaknya tidak tersedia di dunia maya. Atau mungkin, memang tidak ada lagi karya beliau selain yang telah disebutkan diatas. Ada yang ingin memberikan referensi?

Kembali menyoal puisi Ibu Sukmawati Soekarnoputri yang menuai polemik, intrik dan dewi persik tersebut; sepertinya saya ‘ndak perlu lagi menulis ulang apa yang terjadi, dimana, apa saja reaksi, dari mana saja, dan dalam bentuk mulai paling damai sampai paling mblakrak sekalipun terhadap untaian kata-kata tersebut. Karena semua tersedia di media-media lokal, ndak tahu kalau internasional. Tentu Ibu Sukmawati Soekarnoputri sebagai seorang publik figur punya tanggapan; dan sadar apa yang diutarakannya telah menuai kecaman dari berbagai pihak. Untuk meredakan segala yang ada, maka Ibu Sukmawati Soekarnoputri mengklarifikasi mengenai puisi Ibu Indonesia di sebuah konferensi pers. Konferensi pers ini dilakukan di Warung Daun Cikini, 4 April 2018 lalu. Berikut merupakan isi dari klarifikasi beliau,

“Sehubungan dengan dinamika dan pro-kontra terkait dengan puisi Ibu Indonesia yang saya bacakan dalam acara 29 tahun Anne Avantie Berkarya di ajang Indonesia Fashion Week 2018 yang ternyata telah memantik reaksi dari sebagian kalangan umat Islam. Dengan ini saya bermaksud menyampaikan klarifikasi sebagai berikut:
Puisi Ibu Indonesia yang saya bacakan adalah sesuai dengan tema acara pagelaran busana yakni culture identity yang mana semata-mata adalah pandangan saya sebagai seniman dan budayawati; dan murni merupakan karya sastra Indonesia.
Saya mewakili pribadi tidak ada niatan untuk menghina umat Islam Indonesia dengan puisi Ibu Indonesia. Saya adalah muslimah yang bersyukur dan bangga dengan keIslaman saya, putri seorang proklamator Bung Karno yang telah dikenal juga sebagai tokoh Muhammadiyah dan tokoh yang telah mendapat gelar dari NU sebagai pemimpin pemerintahan secara darurat yang kebijakannya mengikat secara de facto.
Puisi Ibu Indonesia adalah puisi yang saya tulis yang menjadi bagian dari buku kumpulan puisi Ibu Indonesia yang telah diterbitkan pada 2006. Puisi ini ditulis sebagai refleksi dari pemikiran-pemikiran saya tentang wawasan kebangsaan dan saya rangkum dan semata-mata untuk menarik perhatian anak-anak bangsa untuk tidak melupakan jati diri Indonesia asli.
Puisi ini saya tulis sebagai bentuk, sebagai upaya untuk mengekspresikan melalui suara kebudayaan sesuai dengan tema acara. Saya tergerakkan dengan cita-cita untuk semakin memahami masyarakat Islam Nusantara. Dalam hal ini Islam yang begitu agung, mulia, dan indah. Puisi itu juga merupakan bentuk penghormatan saya kepada ibu pertiwi Indonesia yang begitu kaya dengan tradisi kebudayaan dalam susunan masyarakat Indonesia yang begitu bhinneka.
Namun, dengan karya sastra dari puisi Ibu Indonesia ini telah memantik kontroversi dari berbagai kalangan baik pro dan kontra khususnya di kalangan umat Islam. Dengan ini, dari hati yang paling dalam saya mohon maaf lahir dan batin kepada umat Islam khususnya yang merasa tersinggung dan berkeberatan dengan puisi Ibu Indonesia itu. Selain itu saya menyampaikan permohonan maaf kepada Anne Avantie dan keluarga, serta apresiasi dan terima kasih kepada seluruh fashion designer Indonesia agar tetap berkreasi dan produktif.”

Saya cukup menghargai usaha beliau untuk meminta maaf, walau memang itu dilakukan dalam tekanan dari berbagai pihak. Mengutip kata senior saya, seringkali, “Yang waras ngalah saja lah”, walau kita sendiri sebenarnya punya patokan dan pembenaran untuk menentukan siapa yang waras. Walaupun klarifikasi sudah dilayangkan, tapi tetap saja ada pihak-pihak yang tidak puas dengan poin-poin yang disampaikan beliau. Sampai yang paling menggelitik, kemarin ada ‘aksi berangka cantik’ lagi, tuh. Minta Ibu Sukmawati dikriminalisasi. Ternyata tidak hanya jadian saja yang perlu angka cantik, mengkriminalisasi orang lain juga.

Tak ingin berpikir dan berpendapat soal ini sendirian, kali ini saya menggandeng seseorang yang saya hormati dan saya rasa punya kapabilitas yang cukup untuk mengomentari isu ini. Demi menjaga anonimitas dan privasi dari kawan saya yang saya mintai pendapatnya mengenai hal ini, maka obrolan akan saya transkrip dalam bentuk teks saja. Tidak ada pengubahan sedikitpun pada transkrip obrolan ini, kecuali tanpa memuat unsur identitas dan bentuk fisik dari obrolan. Obrolan ini dilakukan melalui medium LINE Messenger, dengan tanggal dan waktu yang terlampir.


Kutipan obrolan dengan [X]. (Foto: Transkrip — via LINE Messenger)

Yha, begitulah. Secercah obrolan ini kemudian menjadi menarik karena ada poin-poin yang terkemuka. Jika kamu malas membaca, saya dengan senang hati akan merangkumkan. Menurut [X], jikalau puisi tersebut ‘dihidupkan’ di zaman sekarang tentu akan menuai kritik. Apapun alasan (yang mendasari penulisan puisi tersebut), dia (Sukmawati Soekarnoputri) pasti disalahkan. Menurut [X], kasus ini hampir serupa dengan kasus budaya konde dan kebaya yang dicibir oleh organisasi masyarakat di Jogjakarta, dan contoh kasus lainnya. Konde dan kebaya dipermasalahkan karena ‘dianggap’ tidak sesuai dengan syariah Islam.

Dalam intepretasi [X], puisi ini tidak masalah, justru sebagai sebuah kritik bagi golongan-golongan garis keras, khususnya di Jakarta. Jakarta sudah terlanjur menjadi tempat yang keras (keras kepala, batu). Mau diberikan pembelaan seperti apapun, pihak tersebut tidak akan berhenti memaki. Pihak yang dimaksud adalah sekelompok oknum yang merasa Indonesia itu harus (sesuai dengan budaya dan syariat) Islam, sehingga (terkesan) budaya asli Indonesia yang tidak sesuai dengan syariat Islam harus dihapus. Kejadian seperti ini sudah banyak terjadi, dan intepretasi ini mewakili keseluruhan isi puisi dari Ibu Sukmawati.

Hal ini cukup menjadi dasar saya untuk mengembangkan opini ini lebih jauh. Benar atau salahnya, saya mohon maaf sebelumnya. Pertama, mungkin saya akan membahas mulai dari puisi-nya sendiri. Puisi, adalah produk dari sastra dan literasi, yang juga hasil refleksi dari kehidupan dan kebudayaan. Puisi, sedikit banyak merupakan cerminan dari ekspresi personal sang penulis. Ekspresi personal dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan tak hanya berupa ilmu. Puisi juga, mungkin, adalah bentuk dialog dan perenungan antara penulis dengan diri sendiri. Dengan semua hal ini, sepertinya cukup tidak bijak jika kita mengintervensi ekspresi personal. Pun puisi, sebagai produk literasi, tidak bisa semerta-merta diartikan secara harfiah. Intepretasi suatu puisi bisa berbeda untuk setiap orang (itulah kenapa saya paling benci soal ujian SBMPTN Bahasa Indonesia yang diminta mengartikan puisi, ‘kan tergantung penulisnya ingin menulis apa? Kita tak pernah benar-benar tahu). Puisi, tidak bisa kemudian diartikan kata demi kata, atau diartikan mentah-mentah, bahkan puisi kontemporer, misalnya, tidak mengutamakan makna, tapi mengutamakan ‘bentuk’ dan format penulisan. Puisi, sekali lagi, menurut saya adalah bentuk renungan yang tidak bisa diartikan sekali duduk.

Kedua, puisi, sebagai bagian dari sastra, bisa memegang peran sebagai kritik sosial. Perlu adanya kearifan dan kedewasaan mental dalam menyelami makna puisi sebagai kritik sosial. Sudah cukup sadar dirikah kamu, bahwa kamu, mungkin, tidak selalu benar? Perlu diberi ‘saran’? Mengutip sebuah kalimat yang tak asing, “Sastra adalah senjata”, maka senjata itu mungkin cukup ‘tajam’ dan tepat sasaran sehingga kamu yang ‘salah’ menjadi terluka. Kamu, adalah target dari sastra, kalau kamu merasa. Sastra, menurut saya adalah ruang publik yang tidak bisa dipengaruhi oleh aspek apapun. Sastra dalam wujudnya adalah unit yang sangat netral. Kamu, yang mungkin tidak netral, pasti akan resah dengan sastra. Begitulah, memang.

Ketiga, mengenai seni sebagai bagian dari kebudayaan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan sudah sejak lama bersinggungan dengan aspek hidup lainnya, yaitu agama. Ya karena dua hal ini berkembang beriringan, bertemu di kehidupan. Padahal jika diingat lagi pelajaran sejarah Indonesia, Wali Songo menggunakan medium wayang dan kebudayaan Jawa untuk merangkul kaum dan menyebarkan poin-poin ajaran dalam Islam. Tentu, di wilayah asal agama Islam, mereka tidak (atau katakanlah, belum) mengenal budaya wayang. Kenapa zaman dahulu tidak dianggap ‘bersinggungan’ ya?. Karena ketidaktahuan? Atau justru karena kearifan dan keinginan untuk mempelajari hal baru?

Telaah lebih dalam tentu diperlukan dalam menyikapi suatu kasus, termasuk dalam menyikapi puisi dari Ibu Sukmawati Soekarnoputri. Terlepas dari anak siapapun dia, seharusnya dapat dipahami bahwa Ibu Sukmawati Soekarnoputri adalah sesosok manusia, entitas yang seharusnya punya hak untuk ‘merdeka, sejak dalam pikiran’. Apa yang diungkapkan Ibu Sukmawati adalah bentuk ekspresi diri, sehingga tidak arif rasanya mengaitkan beliau dengan ayahnya, atau bahkan menyerang beliau dengan pernyataan-pernyataan dalam bentuk hinaan dan ad hominem. Mungkin yang perlu disayangkan dari Ibu Sukmawati, beliau terlalu percaya diri, percaya bahwa Indonesia sudah dewasa dalam menyikapi seni dan budaya.

Entah sampai kapan, seni dan kebudayaan akan terus semakin menjadi sidekick dalam kehidupan Indonesia. Edukasi mengenai seni dan budaya yang masih sebatas kurikulum, bukan kepada sense of belonging. Terlalu muluk-muluk, kalau boleh dibilang hilang harapan, Indonesia akan mau menjadikan seni sebagai ilmu yang ‘dianggap’ penting (walau sekarang banyak institusi tinggi yang mempelajari seni). Sehingga, salah paham dan sensi kepada seni bukan tidak mungkin akan semakin tumbuh subur. Akan sulit berbahagia, kalau kamu menggelendot pada seni dan kebudayaan. Contoh paling mudah, yang kuliah seni-senian, pernah dapat pernyataan ini?

“Mau jadi apa kamu kuliah seni?”

– Puti Cinintya Arie Safitri, dengan sadar penuh menuliskan ini ditemani segelas tinggi kopi susu dan udara Kalibata yang pengap, 10 April 2018.

Tulisan ini pernah dimuat di Medium pada https://medium.com/@kuntilawak/kebahagiaan-budayawan-dan-se-n-iman-direnggut-sejak-lama-cb6393c3c79d

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai