
Your Head As My Favourite Bookstore – Eleventwelfth
I’m neglecting my realm to dissent your repeating line
But according to you all those letters were written out right
Confusing it seems but subsconsciously re-reading the poem you’ve had sent to me
It blows a straight understanding of what may and may not rhyme
Inside those pages you’ve handed down
Beyond this library of our mind,
You’ve found the shelf where our moment was emphasized
You vent it to your blank note
A white paper full of false hope
Here now your chapters are closing
Your sentences is losing its depth to compile each character you’re fusing
The words that you’re using it felt less amusing
And the syllables failed to describe all my wonder
Sometimes I would sit at the balcony
Pairing all the vivid lights to bear away all those memories
The one that got me stuck on hold while I’m adressing your head as my favourite bookstore
To quote the sole author,
I’ll re-write the story where it ends in a halt
I vent it to my blank note
A white paper full of false hope
Ah. Lagu ini lagi.
21:54 WIB.
Aku baru saja melempari toko buku lain dengan obor. Benar-benar ku acak-acak. Namun entah ya, sepertinya toko buku itu baik-baik saja. Aku tidak tahu persis. Yang jelas, nampaknya toko buku itu sudah tidak bisa ku kunjungi lagi. Atau kalaupun bisa, pasti rasanya sudah tak sama lagi seperti pertama kali aku menginjakkan kaki padanya.
Sebenarnya toko buku ini termasuk yang tercocok sejauh yang aku tahu, bahkan masih lebih cocok dari toko buku langgananku yang sebenarnya koleksi bukunya tidak cocok-cocok amat, namun nyaman dan aku masih bisa meraba isi-isi bukunya. Namun, toko buku ini lebih memilih pelanggan lain untuk setia membeli dan membaca disana. Aku kurang cepat jadi pelanggan, katanya. Cih! Persyaratan macam apa itu? Semuanya tentu tahu kalau akulah pelanggan terbaik yang pernah ada. Tidak peduli aku terlambat datang ke toko buku ini atau tidak. Bodoh.
Sistem limbikku sakit. Ngilu, kebas, memar, apapun itu. Padahal tadi siang baik-baik saja. Aku seharian hanya ada di indekosku, mengerjakan tugas kantor, lalu bertukar kabar dengan kawan-kawan. Beberapa membuatku bersemangat mencari informasi mengenai beasiswa magister dan ilmu-ilmu lain yang ku pikir ku butuhkan. Namun tiba-tiba saja, semuanya menguap. Aku limbung.

Dengan ulu hati yang tertohok karena belum makan sejak pagi, aku tinggalkan gawaiku setelah sumpah serapah. Aku keluar indekos dan berjalan perlahan, mendengarkan setiap derak batu yang terinjak kakiku. Mataku berkabut. Sial. Bulan setengah pudar mengiringi malam yang entah mengapa terasa sangat hening. Hening yang tidak nyaman. Tidak boleh tumpah sekarang, setidaknya sampai aku bisa ada di dalam indekos lagi. Ku lewati beberapa gerai sekitar yang telah tutup. Menunggu lampu merah. Menyeberang. Menyongsong mesin penarik uang. Dengan tangan yang gemetar dan tubuh tidak stabil, kuselesaikan transaksi. Menyambar botol isi coklat yang selalu bisa membuatku merasa lebih baik, ke kasir membeli sahabat karibku yang sudah tiga tahun terakhir kuakrabi. Membayar. Keluar dengan segera.
Sial kedua. Tutup ternyata. Aku menyeberang dengan frustasi. Akhirnya secara serampangan sampai di sebuah gerai makan penyambung usus manusia-manusia miskin. Ku pesan semangkuk mie instan tanpa tambahan apapun dan air panas di gelas. Kunyalakan sahabat karibku buru-buru. Bercengkrama dengannya selagi api dari tungku gas itu meluluhlantakkan struktur kering berkelok-kelok itu. Dan dia datang.
Lucunya, si sialan yang biasanya enak di mulutku ini sama sekali tidak ada rasanya. Apakah aku masih sakit? Atau efek dari tidak makan seharian? Atau karena toko buku brengsek itu? Cepat-cepat ku habiskan, karena aku sudah tidak bisa menahan isi kepalaku yang mau muntah. Setelah kuhabiskan, ku pesan seplastik es batu. Bukan, bukan untuk mengkompres kepalaku. Tapi mentalku.

Ku membayar dan berjalan lagi. Nyaris terkulai lemas di pinggir jalan, dimana lalu lalang orang menuju Solo (mungkin?) menyambar-nyambar. Aku harus diam sebentar. Sunyi setelah lewat, detak jantungku begitu terdengar. Ku tatap lampu-lampu yang bersinar pada tiang-tiang yang terlihat sendiri-sendiri. Seperti tiang-tiang itu, mungkin kamu memang harus berjarak.
Aku muntah.
Setiap manusia memiliki ragam keinginan dan hasrat yang saling berkonflik satu sama lain, serta bahwa manusia harus mengatur semua hasrat yang bergejolak di dalam dirinya.
Plato