Kegilaan Kala Dalam Penjara

Aku belum tidur, dan mimpi dinosaurus. Aku mimpi ini karena aku baru tahu kalau enam puluh lima juta tahun lalu, dinosaurus punah akibat kondisi bumi yang galak banget saat itu. Kenapa ya, dinosaurus gak social distancing atau #dirumahaja kayak kita sekarang? Kalau mereka gitu kan, mereka gak akan punah. Gak tau juga sih ya, kita punah gak sih nanti?

Aku termenung, melihat jendela. Kulihat awan yang hijau dan rumput yang biru bergerak, seiring dengan sinar matahari menyinari secara horizontal. Pedas juga di mata. Aku baru sadar, aku belum tidur dengan mata tertutup. Harusnya manusia tidur di pagi hari, dan beraktivitas di malam hari. Ini aku malah sebaliknya, melek di pagi hari dan tidur di malam hari. Aku rindu jam tidur normal ku.

Kudengar ibu memasak, tapi aku baru ingat kalau ibuku sudah meninggal. Ternyata aku cuma rindu sama ibuku. Aku berjalan menuju dapur dan akhirnya memasak sendiri, ku buka kulkas dan isinya tinggal mie shirataki dan jamur. Maklum, kondisi gak bisa bekerja dan harus membatasi aktivitas ini bikin aku diet, alih-alih gak punya uang. Lalu aku menyalakan kompor. Api menyambar panci dan ku rebus semuanya, sayang aku gak punya nugget. Padahal enak nugget rebus. Aku rindu belanja dan memenuhi isi kulkas ku.

“Lagi apa?”, suara di belakangku berseru.
“Lagi bikin sarapan.”
“Loh ini kan pagi hari?”
“Ya gue aja baru bangun pagi gini, gimana sih?”
Adikku tertawa. Lalu kudengar suara mesin cuci piring bergelegak menggilas piring-piring dan mangkuk kotor.

“Gue kangen dengar lu marah-marah di rumah, welcome home.”
“Alah, gue berbulan-bulan pulang juga gak ada yang nanyain kan, selain minta bayaran listrik rumah.”
“Jangan gitu dong”, adikku cemberut. Aku melanjutkan masak, kemudian aku terkejut sendiri.

“Oh iya, kerjaan!”

Ku buka laptop dan aku berusaha login ke aplikasi project management. Lho, kok aku dihapus dari keanggotaannya? Baru sadar, aku kan sekarang pengangguran. Aku rindu bekerja, tapi hanya pekerjaannya saja. Akhirnya aku kembali memasak lagi. Kemudian handphone jadulku berbunyi. Tulalit tulalit, ku lihat ada sebuah notifikasi.

“Hai sayang! Kita gagal ketemu terus ya. Kapan sih pandemi ini berakhir, aku kangen kamu!”

Aku cuma tersenyum membacanya, tapi tidak berniat membalas. Rindu itu eksklusif kali, gak bisa sembarang aku bagi-bagi ke semua orang. Tapi aku kan gak bisa mengontrol orang lain boleh rindu padaku atau tidak. Aku sih senang-senang saja. Tak lama kulihat tulalit tulalit, ku dengar ada sebuah notifikasi.

“Hai sayang! Kita pejuang LDR banget ya. Kapan sih pandemi ini berakhir, aku kangen kamu!”

Aku cuma tersenyum membacanya, eh ternyata gak cuma tersenyum saja. Aku larikan jariku berdansa di atas layar kaca (bukan televisi) handphone-ku dan menekan tombol send.

“Aku juga!”
Sudah cukup gitu saja, jangan banyak-banyak. Gengsi dong.

Makananku sudah matang dan sambil makan aku berpikir, apa kabar ya ikan-ikan yang gagal jadi sushi di luar sana? Aku rindu makan sushi, buatku makan sushi hanya afdol kalau dilakukan di restorannya langsung. Tapi kan, social distancing brooo. Iya gak sih? Bikin sendiri bisa, tapi ikannya ikan encu. Kan kita semua miskin di masa pandemi ini. Ada notifikasi lagi yang gak tulalit tulalit, ternyata dari aplikasi perekam mood-ku.

“Apa yang kamu rasakan saat ini?”
Dengan segera ku pencet pilihan mood-mood negatif dan ku tekan hanya satu mood positif yaitu ‘relax‘. Ternyata hari ini adalah jadwal asesmen-nya keluar. Aku baca hasilnya.

“Kamu menderita depresi akut”

Oh iya, ini sih aku tahu. Terima kasih aplikasi pintar. Aku rindu ketemu psikolog secara langsung. Tapi masa iya, sesi sama psikolog harus berjarak 2 meter? Nanti ngobrolnya teriak-teriak seperti di hutan. Aku rindu jadi waras. Tak terasa, dengan semua kegilaan ini, hari sudah semakin siang. Kulihat semua manusia di rumah sudah tertidur, termasuk adikku. Kalau mereka tidurnya beneran 8 jam, jadi paling sore sudah bangun. Dan kemudian sore sampai malam mereka beraktivitas seperti biasa. Aku yang berencana akan tidur malam. Malas ah, biar gak berinteraksi aja.

Oh iya, ini sih aku lupa. Pemerintah kemarin gak ngasih tahu apa-apa selain social distancing. Ih sombong ya, kayak kakak kelas yang suka perploncoan itu lho. Nyuruh-nyuruh tapi gak ada esensinya, pasti banyak yang gak nurut, lah! Aku nurut sih, karena males ketemu manusia lain saja. Aku lagi marah-marah ke pemerintah nih, lewat sosmed. Aku rindu ketemu teman-teman kiri dan merebut alat produksi bersama.

Akhirnya karena bosan, aku main game cacing. Caranya, gali tanah, lalu plintir-plintir cacing yang keluar dari lubang tanah. Hebat bukan. Menarik. Akhirnya karena bosan, aku main game jadi walikota. Wah enak ya kalau main-main aja, gak didemo. Padahal tingkat kebahagiaan warganya udah tinggal 20% nih. Namanya juga game.

Kalau rindu-rindu ini dirangkum, aku rasa dinosaurus bisa punah dua kali karena ketiban kangen. Makanya, eceran saja.

Kulihat keluargaku sudah bangun, saatnya aku tidur.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai