292 dari 366

Seorang gadis menatap lekat-lekat layar gawainya, genggaman tangannya kencang hingga mungkin saja gawai itu akan retak layarnya. Di hadapannya ada sepiring nasi yang baru masuk mulut lima suapan, terjeda karena sebuah panggilan telefon. Di belakangnya ada keluarganya yang sedang menonton suatu pertandingan, entah apa, ia tidak sempat menengok. Lima menit sebelumnya,

“Halo? Oit ada apa?”

“Oh, terus?”

“…..”

“…..”

“Iya, oke”

Ia tidak sanggup menahan ini semua sendiri. Baru saja dikabarkan bahwa ia tidak jadi ditempatkan di suatu posisi tanpa penjelasan yang berarti, padahal ia sudah memilih untuk mundur dari posisi sebelumnya. Perasaan berkecamuk gagal tersalurkan karena tidak ingin membuat heboh seisi rumah. Ia menahan, menahan, menahan dan akhirnya satu persatu teman-temannya ia kabari. Semuanya begitu marah dan murka mendengar kabar itu. Sumpah serapah jatuh satu persatu. Isi pet shop keluar semua. Berusaha menguatkan hati karena ditegur tidak menghabiskan makan, malah sibuk main handphone. Rasanya ia ingin melempar gawai itu ke muka siapapun. Dengan terpaksa, ia melanjutkan makan.

Dunia ini terasa begitu gelap. Wajar ia merasa bodoh dan tidak berguna. Belum lagi perasaan bahwa ia tidak profesional karena meninggalkan posisinya secara tiba-tiba. Maju kena, mundur kena. Ia lalu berusaha mengalihkan perasaan ke aktivitas lain. Ia menyalakan berbatang-batang rokok setelah anggota keluarga yang tadi memarahinya berangkat kerja. Paling tidak, ia ada waktu sendirian untuk memproses semua ini. Ia mematikan batang rokoknya yang kelima karena rasanya sudah terlalu sesak. Masih sangat banyak notifikasi masuk ke gawai. Semua ingin membantu, sekaligus tidak bisa membantu apa-apa. Tidak tahan, gawainya dimatikan. Ia ingin sekali menangis, tapi tidak ada yang keluar. Akhirnya ia kembali bermain The Sims.

Betapa terbolak-baliknya dunia, ketika di The Sims semuanya begitu sukses, punya rumah tingkat, terkenal, punya kucing yang lucu, tidak kekurangan uang, furnitur lengkap dan dekorasi sesuai keinginan, berpesta sesekali, tidak ada virus, dan lebih enaknya: semua bisa diatur sendiri. Dunia nyata, mana bisa? Ia harus pasrah diatur-atur eksternal, bahkan nasib saja katanya sudah ada yang mengatur. Mengubah nasib bisa saja, tapi tetap saja harus ikut apa kata eksternal.


Tidak! Aku tidak boleh terpuruk! Batinnya. Ia lantas mandi, sebersih-bersihnya. Selama mandi, ia pikirkan apa saja yang akan dilakukannya setelah ini. Ia lalu memakai segala skincare dan body care. Usai itu, dibukanya laptop. Kembali kosong, dan gelap.

“We must be willing to accept failure as an opportunity to learn, develop, improve, make new beginnings, and even end our slumps and surrender.”

Charles W. McCoy Jr. in “Why Didn’t I Think of That”

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai