#MencatatKancah: Merayakan Memori Memorandum

Pagi ini aku sedikit mengantuk, disokong kopi sachet dan tembakau linting. Suara lalu-lalang orang kantor mengiringi saat aku mengetik artikel ini. Tidak banyak pilihan bagi kelas pekerja kreatif seperti aku untuk bisa mengerjakan apa yang aku senangi setiap saat, sehingga harus disempat-sempatkan. Pikiran ini melayang ke bulan Juli lalu, tepatnya tanggal 2 di Bandung.

Aku datang bersama seorang teman ke helatan Memorandum Showcase, sebuah acara yang didukung oleh Maternal Disaster. Yang jadi jagoan di acara ini adalah Perunggu. Ya, jelas, soalnya Memorandum adalah judul dari album penuh pertama mereka. Album Memorandum sendiri dirilis pada bulan Maret 2022. Perunggu tidak petantang-petenteng sendirian, mereka mengajak Bananach, Liepzig dan Flukeminimix guna meramaikan acara ini. (Fakta trivial: saat menulis paragraf ini, “Pastikan Riuh Akhiri Malammu” terputar dari pelantang suara yang disetel anak kantor di ruangan sebelah — tanda bahwa Perunggu mulai didengarkan banyak orang, mungkin?).

Aku dan temanku sampai ke venue kepagian. Setelah menunggu beberapa lama, acara dimulai sekitar pukul 18:30-an, kalau tidak salah. Pertama kali, tersuguhkan penampilan dari Bananach. Jujur saja, aku tidak banyak tahu tentang Bananach, hanya pernah dengar namanya sekilas, yang itu juga entah kapan. Sebelum hari itu, aku sempat riset kecil-kecilan. Bertandang ke laman Bandcamp mereka.

Aku suka. Aku suka. Aku suka. Cuma ada dua kata itu yang muncul di kepala ketika mendengarkan lini-lini mereka. Apa ya, nyantol aja. Terlebih karakter suara vokalisnya, Karina Sokowati cukup unik jika disejajarkan dengan band-band dengan genre sejenis. Kalau diminta memilih mana track jagoanku, maka aku akan memilih “Sick Mind” dan “Aphrodites”.

Tapi ternyata, setelah menonton langsung, “Virgin Fuckboy” boleh juga. Bisa dibilang, Bananach adalah paket lengkap berisi performance penuh tenaga dan juga menyuguhkan ‘visual’ yang memanjakan mata. Apa ya, dari mataku, rasanya tidak bosan melihat mbak Karina loncat kesana kemari di panggung dan bahkan sampai turun ke penonton. Unit nyaris punk rock (menurutku, gatau, apa sih genre kalian teh?) ini diisi oleh 3 perempuan dan 1 laki-laki; yang menurutku bagus! Ya, ayo, mari kita gaungkan women supremacy di ranah musik arus pinggir! Oya, kebetulan aku dapat setlist mereka. Suatu hari, aku harus nonton mereka lagi untuk minta legalisir. Hehe.

Setelah lelah melompat-lompat bersama Bananach, kami dihadapkan pada sebuah set gelap dan tiba-tiba semerbak bau dupa yang dibakar. Wanginya lantas langsung memenuhi ruangan IFI Bandung yang enggak seberapa luas itu. Tidak lama, naiklah Leipzig ke panggung. Aku lebih tidak tahu lagi soal mereka, mendengarkan lagunya saja belum pernah. Kebetulan aku dapat setlist-nya juga, tertulis mereka membawakan “Nothing Grand, Nothing Fun”, “Common Sense”, “Frida Kahlo”, “Sanghyang Ultra” berkolaborasi dengan Tesla Manaf di bawah moniker Kuntari, dan lagu lainnya yang semuanya entah bisa aku dengarkan dimana(???).

Tapi jujur, aku sangat menikmati energi yang coba mereka bagikan lewat penampilannya. Unit (mungkin) post-punk irisan dengan (mungkin) hardcore ini menarik kok. Dan ya sama, visually pleasing. Seharusnya aku coba mendengarkan Garbage Disposal Communique dulu sebelum nonton (nama albumnya juga aku dapatkan dari Google hehe maaf). Sayangnya, atau bagusnya, rilisan mereka tidak tersedia dimana-mana; atau aku yang kurang cermat mencari. Jadi catatan buatku untuk membeli CD asli mereka nanti.

Habis Leipzig, terbitlah Flukeminimix. Nah, kalau mereka, aku sudah sangat sering dengar. Mungkin bisa dibilang dari sekitar tahun 2017-2018 lah. Kayaknya sempat juga mereka manggung di acara lain di Jakarta yang aku hadiri namun aku tidak mengunjungi panggung mereka. Nyatanya, perbuatanku ini dosa besar. Kenapa aku enggak menonton mereka dari dulu??? Kenapa???

Flukeminimix tampil dengan apiknya, tipe band yang sudah pasti akan kumasukkan ke dalam playlist yang ku dengarkan ketika bekerja bersama nada-nada mengawang lainnya. Lagunya panjang-panjang dan bingung memisah mana lagu satu dengan yang lainnya. Penonton juga benar-benar enggak dikasih nafas sedikitpun oleh Flukeminimix. Dihajar habis-habisan dengan raungan gitar intens dan komposisi bernas dari awal penampilan. Tanpa lirik pun, mereka sudah jadi unit yang akan membuat bulu kuduk berdiri karena intensnya tadi. Sedikit intimidatif dan menyeramkan. Gokil. Ini dia yang namanya ibadah gigs, momen-momen spiritual yang mungkin enggak bisa tergantikan dengan konser virtual.

Setelah dibuat melayang oleh Flukeminimix, mari kita letakkan tapak kaki di tanah lagi. Penampilan mereka mengantar kita untuk menyaksikan sajian utamanya, yaitu Perunggu. Aku pertama kali tahu Perunggu dari temanku, saat ia berkunjung ke kosan, masih di tahun ini, jelas. Mungkin di bulan April. Di tengah aktivitas kami, temanku request ganti lagu. Katanya, “Puterin dong, cari namanya “Canggih” band-nya Perunggu”. Oke, kupikir aku memang sudah waktunya memperbarui daftar putarku. Kesan pertama yang kudapat, ada sedikit ‘rasa’ Sheila on 7 muncul di kepala. Tipikal band bapak-bapak, dan ternyata memang begitu konsepnya. Oh iya, mau tanya dong, yang jadi inspirasi di lirik “Canggih” itu Iga Massardi bukan? Hehe.

Sebelum masuk ke ceritaku melihat penampilan mereka, aku ingin Perunggu tahu bahwa album Memorandum kini masuk daftar album paling—nyaris tanpa cela versiku setelah Rasuk (2009) The Trees And The Wild, Roekmana’s Repertoire (2013)-nya Tigapagi, dan yang terbaru adalah Planetarium (2019)-nya Jirapah. Jagoan. Hampir enggak ada lagu yang enggak nyantol di ingatan, semua sopan masuk ke dalam telinga.

Kembali ke acara. Perunggu tampil dengan jas dan kemeja, benar-benar seperti baru pulang kantor. Walaupun tidak berselang lama, vokalisnya yaitu Maul Ibrahim menyerah dan buka jas. Gerah loh, mas. Aku aja yang nonton doang gerah. Perunggu membuka penampilan dengan “Tarung Bebas”, lini nomor satu di album penuh mereka. Ajaibnya, walau Perunggu terhitung seumur jagung, sebagian besar penonton yang datang sudah bisa sing along. Seram, pikirku. Basis massa mereka kapan terbentuknya? Apakah mereka sempat viral? Atau gimana? Hal ini masih jadi pertanyaan buatku sampai detik ini.

Berturut-turut, “Per Hari Ini”, “Prematur” dan “Haru Paling Biru” dimainkan. Aku suka cara Perunggu menulis lirik, bisa dibilang sangat mudah diterima telinga dan pikiran tanpa harus terasa cringe. Beberapa frasa yang dipakai unik dan otentik. “Terbilang/ durasi muram di kubikal// Terdengar/ persepsi miring di kuping kanan” kutipan dari lagu “Per Hari Ini” adalah penggambaran yang menurutku cukup jitu bercerita soal gosip-gosip underground di kantor atau selepetan miring khas politik kantor dan friksi pekerjaan.

Dilanjut dengan “Rencana Usang”, lalu “Jenuh Kan Kutelan” dari EP mereka yang bertajuk Pendar. Si “Jenuh Kan Kutelan” ini dibawakan bersama Alyuadi Febryansyah (gitar, vokal di Heals); dan harus banget kamu dengarkan karena relate banget sama kehidupan kantor yang menjenuhkan, bikin muak ingin marah-marah, tapi tetap harus dihadapi karena banyak tagihan dan cicilan. “Demi mereka yang senyum lebar di layar gawai“, katanya. Mulai dari sini, mereka tidak tampil sendiri, akan ada selang-seling featuring. Setelah mereka membawakan “Menyala”, Perunggu membawakan “Ini Abadi” bersama Giovanni Rahmadeva (drum di Polka Wars). Entah mengapa, selepas membawakan lagu ini, Maul Ibrahim menangis. Humble, pikirku. Mungkin saja ia terharu karena penonton sangat amat bersemangat ikut bernyanyi bersama. Atau memang sesederhana ingin menangis saja.

Venue semakin terasa pengap dan aroma keringat bercampur baur. Ini dia puncaknya. Dibawakanlah lini kesukaanku, “Pastikan Riuh Akhiri Malammu” yang dinyanyikan bersama Bilal Indrajaya. Apa ya, yang bikin aku suka sama lini ini. Kayak, relate aja sama aku yang people pleaser ini. Selalu ingin menyenangkan orang yang terkasih, ingin menjadi riuh di hidupnya yang mungkin melelahkan. “Ku perlu hadir di semua yang kau tangisi” dan “Genggam jariku seeratnya/ Ku buat angin berpihak gerak searah“. Sampai angin aja ingin diputar-balik. Sweet, ya? Mau deh, diginiin sama seseorang juga hehe curhat.

Acara terus berlanjut dengan dibawakannya “Kalibata, 2012”, “Membelah Belantara”, dan “Canggih”. Suasana makin meriah. Sayangnya, tinggal dua track tersisa dari setlist yang mereka bawakan, yaitu “33x” dan ditutup dengan “Biang Lara”. Lantunan “Jika ini sepi/ Tinggikan hatimu berkali ku bilang/ Sembunyikan benci” dari penonton mengiringi lagu terakhir ini. Semua lelah, semua senang, semua menang.

Secara keseluruhan, Perunggu memang perlu (bahkan, harus!) hadir dalam panggung-panggung yang lebih meriah. Mereka berhak atas jumlah audiens yang lebih besar, menurutku. Entah ide siapapun atas berdirinya Perunggu, aku berterima kasih. Terima kasih telah hadir di dunia, dan memutuskan untuk berkarya.

Tulisan ini disusun pada 1 Agustus 2022, dimulai pada 10:06 WIB—di atas meja kantor yang biasa saja, di Bandung.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai